WELCOME TO SERBA SERBI KOMUNIKASI
Home » » Pengertian Ideologi

Pengertian Ideologi

Written By serbaserbi komunikasi on Rabu, 10 April 2013 | Rabu, April 10, 2013


PENGERTIAN IDEOLOGI
Secara etimologis istilah ideology berarti idea dan ilmu, dimana idea adalah gagasan, cita-cita, ataupun konsep, sedangakan ilmuadalah ajaran atau paham, jadi ideology adalah ilumu atau ajaran-ajaran akan ide-ide ataupun gagasan ataupun cita-cita. Jorge Larrain, dalam bukunya The Consept of Ideology, menyatakan bahwa setiap individu atau kelompok masyarakat memiliki suatu sistem kepercayaan mengenal suatu yang dipandang bernilai dan menjadi kekuatan motivasi bagi perilaku individu atau kelompok masyarakat.
Secara umum ideologi dapat dikatakan sebagai kumpulan gagasan-gagasan , ide-ide, keyakinan-keyakinan, kepercayaan-kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis, yang menyangkut; bidang politik, bidang sosial, bidang kebudayaan, dan bidang keagamaan. (Soejono Soemargono, Ideologi Pancasila Sebagai Penjelmaan Filsafat Pancasila dan Pelaksanaannya dalam masyarakat Kita Dewasa ini).
Berikut ini beberapa pengetahuan tentang ideologi dari para ahli :
a. Soerjanto Poespowaedojo
Ideologi dapat dirumuskan sebagai kompleks pengetahuan dan nilai yang secara keseluruhan menjadi landasan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami jagat raya, bumi, dan seisinya serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya.
b. M. Sastrapratedja
Ideologi adalah seperangkat gagasan atau pemikiran yang berorientasi pada tindakan yang diorganisir dalam suatu sistem yang teratur.
c. A.T. Soegito
Ideologi adalah serangkaian pemikiran yang berkaitan dengan tertib sosial dan politik yang ada, serta berupaya untuk mengubah serta mempertahankan tertib sosial politik yang bersangkutan.
d. Ramlan Surbakti
Ideologi dilukiskan sebagai seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama yang dirumuskan dalam bentuk tujuan yang hendak dicapai dan cara – cara yang digunakan untuk mencapai tujuan itu.
e. Fransn Magnis Suseno
Ideologi dapat dibedakan dalam dua pengertian, yaitu :
1) Ideologi dalam pengertian luas
Ideologi berarti segala kelompok cita-cita luhur, nilai – nilai dasar, dan keyakinan – keyakinan yang mau dijunjung tinggi sebagai pedoman normative. Ideologi dalam arti luas ini selanjutnya dikatakan sebagai ideologi terbuka.
2) Ideologi dalam pengertian sempit
Ideologi adalah gagasan atau teori yang menyeluruh tentang makna hidup dan nilai-nilai yang akan menentukan dengan mutlak bagaimana manusia harus hidup dan bertindak. Ideologi dalam arti sempit selanjutnya disebut sebagai ideologi tertutup.


ISI IDEOLOGI
Isi ideologi agak sulit untuk dipisahkan dari defenisi ideologi itu sendiri. Karena isi ideologi cukup abstrak dan berbeda-beda sesuai dengan titik pandang yang tidak semua orang sama. Contohnya saja, beberapa kalangan mengartikan isi ideologi sebagai sebuah "doktrin" yang ingin mengubah dunia. Ada juga yang mengatakan ideologi sebagai sesuatu yang "visioner" tapi, lebih banyak lagi mengualifikasikannya sebagai sesuatu yang bersifat "hipotetis, tak terkatakan, dan tidak realistis," bahkan lebih dari itu, adalah sebuah "penipuan kolektif oleh seseorang atau yang lain," yang mengarah pada "pembenaran atau melegitimasi subordinasi satu kelompok oleh kelompok lain," dengan jalan manipulasi sehingga menyebabkan ketidak nyamanan yang berhubungan dengan kekerasan sistematik dan teror yang kemudian berujung pada imperialisme, perang, dan pembersihan etnis.
Sedangkan bila disinggung tentang isi ideologi pancasila, penulis menyimpulkan bahwa isi ideologi pancasila adalah pandangan dan metode bagi seluruh bangsa Indonesia untuk mencapai cita-citanya, di mana Pancasila dirumuskan untuk membangun kepentingan Negara. Dengan ideologi Pancasila yang mantap, maka seluruh dinamika sosial, budaya dan politik dapat diarahkan untuk menciptakan peluang positif bagi pertumbuhan kesejahteraan bangsa.



PANCASILA IDEOLOGI NASIONAL

Kita semua mengetahu bahwa pancasila merupakan pedoman hidup rakyat Indonesia. Tapi, tidak sedikit dari kita mengetahui dari manakah ide PANCASILA itu muncul di permukaan bumi indonesia. Lalu apa arti dari PANCASILA sebagai ideologi nasional?
Kumpulan nilai-nilai dari kehidupan lingkungan sendiri dan yang diyakini kebenarannya kemudian digunakan untuk mengatur masyarakat, inilah yang disebut dengan ideologi.
Seperti yang dikatakan oleh Jorge Larrain bahwa ideology as a set of beliefs yang berarti setiap individu atau kelompok masyarakat memiliki suatu sistem kepercayaan mengenai sesuatu yang dipandang bernilai dan yang menjadi kekuatan motivasional bagi perilaku individu atau kelompok. Nilai-nilai itu dipandang sebagai cita-cita dan menjadi landasan bagi cara pandang, cara berpikir dan cara bertindak seseorang atau suatu bangsa dalam memecahkan setiap persoalan yang dihadapinya.
Begitu pula dengan pancasila sebagai ideologi nasional yang artinya Pancasila merupakan kumpulan atau seperangkat nilai yang diyakini kebenaranya oleh pemerintah dan rakyat Indonesia dan digunakan oleh bangsa Indonesia untuk menata/mengatur masyarakat Indonesia atau berwujud Ideologi yang dianut oleh negara (pemerintah dan rakyat) indonesia secara keseluruhan, bukan milik perseorangan atau golongan tertentu atau masyarakat tertentu saja, namun milik bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Pancasila sebagai ideologi nasional dapat diklasifikasikan melalui :
1. Dilihat dari kandungan muatan suatu ideologi, setiap ideologi mengandung di dalamnya sistem nilai yang diyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar. Nilai-nilai itu akan merupakan cita-cita yang memberi arah terhadap perjuangan bangsa dan negara.
2. Sistem nilai kepercayaan itu tumbuh dan dibentuk oleh interaksinya dengan berbagai pandangan dan aliran yang berlingkup mondial dan menjadi kesepakatan bersama dari suatu bangsa.
3. Sistem nilai itu teruji melalui perkembangan sejarah secara terus-menerus dan menumbuhkan konsensus dasar yang tercermin dalam kesepakatan para pendiri negara (the fouding father).
4. Sistem nilai itu memiliki elemen psikologis yang tumbuh dan dibentuk melalui pengalaman bersama dalam suatu perjalanan sejarah bersama, sehingga memberi kekuatan motivasional untuk tunduk pada cita-cita bersama.
5. Sistem nilai itu telah memperoleh kekuatan konstitusional sebagai dasar negara dan sekaligus menjadi cita-cita luhur bangsa dan negara.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pancasila ideologi nasional dipahami dalam perspektif kebudayaan bangsa dan bukan dalam perpektif kekuasaan, sehingga bukan sebagai alat kekuasaan.




DIMENSI-DIMENSI IDEOLOGI
1. Dimensi Realitas
Bahwa nilai-nilai dasar dalam ideologi tersebut secara riil hidup di dalam serta bersumber dari budaya dan pengalaman sejarah masyarakat atau bangsanya (menjadi jiwa bangsa). Nilai yang terkandung dalam dirinya, bersumber dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, terutama pada waktu ideologi itu lahir, sehingga mereka betul-betul merasakan dan menghayati bahwa nilai-nilai dasar itu adalah milik mereka bersama. Pancasila mengandung sifat dimensi realitas ini dalam dirinya. Dilihat dari dimensi ini Ideologi Pancasila mengandung dimensi realita karena nilai-nilai dasar Pancasila bersumber dari budaya dan pengalaman sejarah bangsa Indonesia sendiri, bahkan kelima nilai dasar Pancasila dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.
2. Dimensi Idealisme
Bahwa nilai-nilai dasar dalam ideologi tersebut mengandung idealisme yang memberi harapan tentang masa depan yang lebih baik melalui pengalaman dalam praktek kehidupan bersama sehari-hari. Ideologi itu mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila bukan saja memenuhi dimensi idealisme ini tetapi juga berkaitan dengan dimensi realitas.
3. Dimensi Normalitas
Artinya Pancasila mengandung nilai-nilai yang bersifat mengikat masyarakatnya yang berupa norma-norma atauran-aturan yang harus dipatuhi atau ditaati yang sifatnya positif.
4. Dimensi Fleksibilitas
Bahwa ideologi tersebut memiliki keluwesan yang memungkinkan dan merangsang pemikiran-pemikiran baru yang relevan dengan ideologi bersangkutan tanpa menghilangkan/mengingkari jati diri yang terkandung dalam nilai-nilai dasarnya. Ideologi itu memberikan penyegaran, memelihara dan memperkuat relevansinya dari waktu ke waktu sehingga bebrsifat dinamis, demokrastis. Pancasila memiliki dimensi fleksibilitas karena memelihara, memperkuat relevansinya dari masa ke masa.






IDEOLOGI TERBUKA IDEOLOGI TERTUTUP

a. Ideologi tertutup, merupakan suatu sistem pemikiran tertutup.
Ciri-cirinya:
1. Merupakan kekayaan rohani, moral, dan kebudayaan masyarakat (falsafah). Jadi, bukan keyakinan ideologissekelompok orang, melainkan kesepakatan masyarakat.
2. Tidak diciptakan oleh negara, tetapi ditemukan dalam masyarakat sendiri. Ia adalah milik seluruh rakyat dan bisa digali dan ditemuksn dalam kehidupan mereka.
3. Isinya tidak langsung operasional. Sehingga setiap generasi baru dapat dan perlu menggali kembali falsafah tersebut dan mencari implikasinya dalam situasi ke-kini-an mereka.
4. Tidak pernah memaksa kebebasan dan tanggung jawab masyarakat, melainkan menginspirasi masyarakat untuk berusaha hidup bertanggung jawab sesuai dengan falsadah itu.
5. Menghargai pluralitas, sehingga dapat diterima warga masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang budaya dan agama.
b. Ideologi terbuka, merupakan suatu pemikiran yang terbuka.
Ciri-cirinya :
1. Bukan merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat, melainkan cita-cita sebuah kelompok yang digunakan sebagai dasar untuk mengubah masyarakat.
2. Apabila kelompok tersebut berhasil menguasai negara, ideologinya itu akan dipaksakan kepada masyarakat. Nilai-nilai, norma-norma, dan berbagai segi kehidupan masyarakat akan diubah sesuai dengan ideologi tersebut.
3. Bersifat totaliter, artinya mencakup/ mengurusi semua bidang kehidupan. Ideologi tertutup ini cenderung cepat-cepat berusaha menguasai bidang informasi dan pendidikan. Oleh karena kedua bidang tersebut merupakan sarana efektif untuk mempengaruhi perilaku masyarakat.
4. Pluralisme pandangan dan kebudayaan ditiadakan, hak asasi tidak dihormati.
5. Menuntut nasyarakat untuk memiliki kesetiaan total dan kesediaan untuk berkorban bagi ideologi tersebut.
6. Isi ideologi tidak hanya nilai-nilai dan cita-cita, tetapi tuntutan-tuntutan konkret dan operasional yang keras, mutlak, dan total.









IDEOLOGI BANGSA BANGSA DI DUNIA
1. Liberalisme
Mengenai konsep liberalisme, dapat kita tarik beberapa pokok pemikiran yang terkandung di dalamnya, sebagai berikut:
a. Inti pemikiran : kebebasan individu.
b. Perkembangan : berkembang sebagai respons terhadap pola kekuasaan negara yang absolut, pada tumbuhnya negara otoriter yang disertai dengan pembatasan ketat melalui berbagai undang-undang dan peraturan terhadap warganegara.
c. Landasan pemikirannya adalah bahwa menusia pada hakikatnya adalah baik dan berbudi-pekerti, tanpa harus diadakannya pola-pola pengaturan yang ketat dan bersifat memaksa terhadapnya.
d. Sistem pemerintahan (harus): demokrasi.
2. Konservatisme
Hal atau unsur yang terkandung di dalamnya, antara lain:
a. Inti pemikiran : memelihara kondisi yang ada, mempertahankan kestabilan, baik berupa kestabilan yang dinamis maupun kestabilan yang statis. Tidak jarang pula bahwa pola pemikiran ini dilandasi oleh kenangan manis mengenai kondisi kini dan masa lampau.
b. Filsafatnya adalah bahwa perubahan tidak selalu berarti kemajuan. Oleh karena itu, sebaiknya perubahan berlangsung tahap demi tahap, tanpa menggoncang struktur social politik dalam negara atau masyarakat yang bersangkutan.
c. Landasan pemikirannya adalah bahwa pada dasarnya manusia lemah dan terdapat “evil instinct and desires” dalam dirinya. oleh karena itu perlu pola-pola pengendalian melalui peraturan yang ketat.
d. Sistem pemerintahan (boleh) : demokrasi, otoriter.
3. Komunisme
Gelombang komunisme abad kedua puluh ini, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran Partai Bolshevik di Rusia. Gerakan-gerakan komunisme international yang tumbuh sampai sekarang boleh dikatakan merupakan perkembangan dari Partai Bolshevik yang didirikan oleh Lenin.
a. Inti pemikiran : perjuangan kelas dan penghapusan kelas-kelas dimasyarakat, sehingga negara hanya sasaran antara.
b. Landasan pemikiran :
1. Penolakan situasi dan kondisi masa lampau, baik secara tegas ataupun tidak.
2. Analisa yang cendrung negatif terhadap situasi dan kondisi yang ada.
3. Berisi resep perbaikan untuk masa depan dan.
4. Rencana-rencana tindakan jangka pendek yang memungkinkan terwujudnya tujuan-tujuan yang berbeda-beda.
c. Sistem pemerintahan (hanya) : otoriter/totaliter/dictator.
4. Marxisme
Marxisme, dalam batas-batas tertentu bisa dipandang sebagai jembatan antara revolusi Prancis dan revolusi Proletar Rusia tahun 1917. Untuk memahami Marxisme sebagai satu ajaran filsafat dan doktrin revolusioner, serta kaitannya dengan gerakan komunisme di Uni Soviet maupun di bagian dunia lainnya, barangkali perlu mengetahui terlebih dahulu kerangka histories Marxisme itu sendiri.
Berbicara masalah Marxisme, memang tidak bisa lepas dari nama-nama tokoh seperti Karl Marx (1818-1883) dan Friedrich Engels (1820-1895). Kedua tokoh inilah yang mulai mengembangkan akar-akar komunisme dalam pengertiannya yang sekarang ini. Transisi dari kondisi masyarakat agraris ke arah industrialisasi menjadi landasan kedua tokoh diatas dalam mengembangkan pemikirannya. Dimana eropa barat telah menjdai pusat ekonomi dunia, dan adanya kenyataan di mana Inggris Raya berhasil menciptakan model perkembangan ekonomi dan demokrasi politik.
Tiga hal yang merupakan komponen dasar dari Marxisme adalah :
a. Filsafat dialectical and historical materialism.
b. sikap terhadap masyarakat kapitalis yang bertumpu pada teori nilai tenaga kerja dari David Ricardo (1772) dan Adam Smith (1723-1790).
c. Menyangkut teori negara dan teori revolusi yang dikembangkan atas dasar konsep perjuangan kelas. Konsep ini dipandang mampu membawa masyarakat ke arah komunitas kelas.
Dalam teori yang dikembangkannya, Marx memang meminjam metode dialektika Hegel. Menurut metode tersebut, perubahan-perubahan dalam pemikiran, sifat dan bahkan perubahan masyarakat itu sendiri berlangsung melalui tiga tahap, yaitu tesis (affirmation), antitesis (negation), dan sintesisI (unification). Dalam hubungan ini Marx cendrung mendasarkan pemikiran kepada argumentasi Hegel yang menandaskan bahwa kontradiksi dan konflik dari berbagai hal yang saling berlawanan satu sama lain sebenarnya bisa membawa pergeseran kehidupan social-politik dari tingkat yang sebelumnya ke tingkat yang lebih tinggi. Selain dari itu, suatu tingkat kemajuan akan bisa dicapai dengan jalan menghancurkan hal-hal yang lama dan sekaligus memunculkan hal-hal yang baru.
5. Feminisme
a. Inti pemikiran : emansipasi wanita.
b. Landasan pemikiran: bahwa wanita tidak hanya berkutat pada urusan wanita saja melainkan juga dapat melakukan seprti apa yang dilakukan oleh pria. Wanita dapat melakukan apa saja.
c. Sistem pemerintahan: demokrasi
6. Sosialisme
Hal-hal pokok yang terkandung dalam Sosialisme, adalah:
a. Inti pemikiran : kolektifitas (kebersamaan) (gotong royong).
b. Filsafatnya : pemerataan dan kesederajatan bahwa pengaturan agar setiap orang diperlakukan sama dan ada pemerataan dalm berbagai hal (pemerataan kesempatan kerja, pemerataan kesempatan berusaha,dll).
c. Landasan pemikiran : bahwa masyarakat dan juga negara adalah suatu pola kehidupan bersama. Manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri, dan manusia akan lebih baik serta layak kehidupannya jika ada kerja sama melalui fungsi yang dilaksakan oleh Negara.
d. Sistem pemerintahan (boleh): demokrasi, otoriter
7. Fasisme
Semboyan fasisme, adalah “Crediere, Obediere, Combattere” (yakinlah, tunduklah, berjuanglah). Berkembang di Italia, antara tahun 1992-1943. setelah Benito Musolini terbunuh tahun 1943, fasisme di Italia berakhir. Demikian pula Nazisme di Jerman. Namun, sebagai suatu bentuk ideology, fasisme tetap ada.
Fasisme banyak kemiripannya dengan teori pemikiran Machiavelistis dari Niccolo Machiavelli, yang menegaskan bahwa negara dan pemerintah perelu bertindak keras agar “ditakuti” oleh rakyat. fasisme di Italis (=Nazisme di Jerman), sebagai system pemerintahan otoriter dictator memang berhasil menyelamatkan Italia pada masa itu (1922-1943) dari anarkisme dan dari komunism. Walaupun begitu, kenyataannya adalah, bahwa fasisme telah menginjak-nginjak demokrasi dan hak asasi.
a. Inti pemikiran : negara diperlukan untuk mengatur masyarakat.
b. Filsafat : rakyat diperintah dengan cara-cara yang membuat mereka takut dan dengan demikian patuh kepada pemerintah. Lalu, pemerintah yang mengatur segalanya mengenai apa yang diperlukan dan apa yang tidak diperlukan oleh rakyat.
c. Landasan pemikiran : suatu bangsa perlu mempunyai pemerintahan yang kuat dan berwibawa sepenuhnya atas berbagai kepentingan rakyat dan dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa lain. oleh karena itu, kekuasaan negara perlu dipergang koalisi sipil dengan militer yaitu partai yang berkuasa (fasis di Italia, Nazi di Jerman, Peronista di Argentina) bersama-sama pihak angkatan bersenjata.
d. Sistem pemerintahan (harus) : otoriter
8. Kapitalisme
Kapitalisme adalah bentuk system perokonomian
a. Inti pemikiran : perkonomian individu.
b. Filsafat : negara tidak boleh mencampuri kegiatan-kegiatan perekonomian, khususnya menyangkut kegiatan perekonomian perseorangan.
c. Landasan pemikiran : kebebasan ekonomi yang bersifat perseorangan pada instansi terakhir akan mampu mengangkat kemajuan perekonomian seluruh masyarakat.
d. Sistem pemerintahan : demokrasi.
9. Demokrasi
Demokrasi artinya hukum untuk rakyat oleh rakyat. Kata ini merupakan himpunan dari dua kata : demos yang berarti rakyat, dan kratos berarti kekuasaan. Jadi artinya kekuasaan ditangan rakyat.
Sebenarnya pemikiran untuk melibatkan rakyat dalam kekuasaan sudah muncul sejak zaman dahulu. Di beberapa kota Yunani didapatkan bukti nyata yang menguatkan hal ini, seperti di Athena dan Sparta. Hal ini pernah diungkapkan Plato, bahwa sumber kepemimpinan ialah kehendak yang bersatu milik rakyat. dalam suatu kesempatan Aristoteles menjelaskan macam-macam pemerintahan, dengan berkata,“ada tiga mcam pemerintahan: kerajaan, aristokrasi, republik, atau rakyat memagang sendiri kendali urusannya.”
a. Inti pemikiran: kedaulatan ditangan rakyat.
b. Filsafat : menurut Dr. M. Kamil Lailah menetapkan tiga macam justifikasi ilmiah dari prinsip demokrasi, yaitu:
1. ditilik dari pangkal tolak dan perimabngan yang benar, bahwa system ini dimaksudkan untuk kepentingan social dan bukan untuk kepentingan individu.
2. Unjustifikasi berbagai macam teori yang bersebrangan dengan prinsip demokrasi.
3. Opini umum dan pengaruhnya.
c. Landasan pemikiran. Rakyat membuat ketetapan hukum bagi dirinya sendiri lewat dewan perwakilan, yang kemudian dilaksanakan oleh pihak pemerintah atau eksekutif.
d. Sistem pemerintahan (harus) : domokrasi
10. Neoliberalisme
c. Inti pemikiran : mengembalikan kebebasan individu.
d. Filsafat : sebagai perkembangan dari liberalism.
e. Landasan pemikiran : setiap manusia pada hakikatnya baik dan berbudi pekerti.
f. Sistem pemerintahan : demokrasi.









REFORMASI SOSIO MORAL
a. Ideologi yang bersumber pada filsafat pancasila maka reformasi kita bersifat socio-moral. Sebagai suatu ideologi maka terkandung suatu kehendak untuk berbuat sesuatu. Bagi ideologi pancasila diperlukan adanya sadar kehendak (dalam arti tidak akan terombang-ambing). Agar tidak terombang-ambing maka sadar kehendak ini perlu sadar tujuan, sadar laku (usaha) dan sadar landasan. Secara operasional sadar berarti :
1. Dikaitkan dengan tujuan merupakan suatu keinginan untuk melaksanakan citra menjadi kenyataan (konkritisasi).
2. Dikaitkan dengan laku/prilaku maka usaha untuk mencapai tujuan tersebut harus melalui tanggap nilai.
3. Dikaitkan dengan landasan, konsisten terhadap espirit dan ethos yang dijabarkan dalam filsafat pancasila.
b. Reformasi socio-moral yang berdasarkan ideologi pancasila berarti akan menciptakan:
4. Sistem kelembagaan
5. Sistem tanggap nilai
6. Sistem norma yang ideal (espirit dan ethos)
Ini berarti suatu ideologi apapun namanya termasuk ideologi pancasila, terbuka terhadap suatu perubahan yang datangnya dari luar, walaupun nilai-nilai dasar yang terkandung didalamnya tidak berubah. Sebagai hasil dari reformasi socio-moral tercipta suatu peradaban dalam masyarakat berdasarkan pancasila.






PENUTUP

Dari paparan diatas dapat mengidengkasikan bahwa, pancasila akan selalu mempunyai hal yang baru yang prokresif dalam dalam menghadapi tantangan kehidupan yang makin maju dan makin kompleks. Dalam beberapa pasal, pada khususnya dalam menyangkut nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Tantangan sekarang ini adalah di mana pancasila di hadapkan pada kapitalisme global yang telah berubah menjadi ideology masyarakat dunia. Dan masyarakat Indonesia sedikit banyak terpengaruh akan kaum kapitalisme global ini.
Menghadapi perubahan tatanan pemikiran yang berkembang, sekarang saatnya kita menghidupkan dan memperlihatkan pancasila sebagai sosok yang sakti. Saatnya kita menggali nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang terkandung didalamnya. Dalam pancasila ada kepribadian kemanusiaan yang sangat penting, kepribadian kemanusiaan merupakan sifat-sifat hakikat yang abstrak umumnya universal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk yang lainya yaitu, ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, keadilan, yang merupakan hakikat sifat manusia.
Seperti yang kita ketahui pada masa saat ini pamor ideology nasional Indonesia yakni pancasila sedang menurun. Dan Mustafa Rajei menyatakan bahwa sanya ideology itu tidak perna mati yang terjadi adalah emergence (kemunculan), decline (kemunduran), dan resurgence of idiologies (kebangkitan kembali suatu ideology), dalam bukunya political idiologies. Tampaknya jika kita melihat ideology bangsa Indonesia pada saat awal reformasi hinga saat ini terjadi kemunduran terhadap nilai idelogi bangsa Indonesia, agar pancasila sebagai ideology bangsa tetap mempunyai semangat untuk diperjuangkan, kita tentunya harus menerima kenyataan bahwa ideology bangsa Indonesia sendiri belum diterima sendiri oleh masyarakat bangsa.
Share this article :
Unduh Adobe Flash player

Tutorial Animasi



 
Copyright © 2013. Serba Serbi Komunikasi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger